Melumatkan diri dan menjelma anak-anak sungai yang gemericik
mengumandangkan tembang ke ranjang malam.
Memahami nyerinya rasa kelembutan.Berdarah oleh pandanganmu sendiri terhadap cinta.
Menanggung luka dengan hati yang penuh tulus nan bahagia .Bahagia dikala fajar dengan hati mengepakkan sayap-sayap.Dan melambaikan rasa syukur untuk limpahan hari yang berbalur cinta
Merenungkan muara-muara cinta sambil beristirahat di siang hari.
Dan kembali dikala senja dengan puja yang menyesaki rongga hati.
Lantas,
Engkaupun berangkat ke peraduanmu dengan secarik doa. Yang disulurkan
kepada sang tercinta di dalam hatimu Yang diiringi seuntai irama pujian
yang meriasi bibirmu...
Tuesday, 19 November 2013
Berkemas
Berkemas itu berat.Meninggalkan cerita,menakutkan sesal yang menggumpal.Kalaupun kembali betapa lelahnya harus membongkar yang pernah ada.Semoga lelah ini tak diukur lagi.Berjalan dan berjalan terus membawa sisa hati.Sambil tak berhenti berdoa.Akankah pergi ini akan membawa juga ke jalan pulang.Sejauh kaki melangkah,bila sebelah hati terus memanggil,sanggupkah diri tak menoleh dan memeberi senyum itu lagi?
Berkemas.Satu per satu melipat kenangan.Membungkus dengan keikhlasan,Merapikan ingatan demi ingatan.Semua akan diletakkan kembali seperti semula,seperti saat pertama belum dipertemukan.Bahagia menanggung perih.Menatap cinta yang bukan hak milik.Tuhan titipkan keindahan,seindah apapun itu,Tuhan juga yang mencabutnya.Hanya pernah indah,tak mungkin bisa jadi megah.
Hanya rindu yang bisa ditinggal.Tak akan dibawa berkemas.Karena hanya satu-satunya dalam rindu itu bisa saling mendoakan.Seberat apapun menanggung rindu,tak seberat seperti berkemas.Apabila kelak rindu memanggil,berdoalah.Jangan lagi menoleh ke belakang.Apalah itu sedih.Sedih hanya pigura berukir yang bisa dilepas kapanpun saja.Mari saling menyanggupi untuk berkemas.Jangan lagi rindu pulang menuju hati yang lalu..
However,I love us..
Pretty Octovilova
Berkemas.Satu per satu melipat kenangan.Membungkus dengan keikhlasan,Merapikan ingatan demi ingatan.Semua akan diletakkan kembali seperti semula,seperti saat pertama belum dipertemukan.Bahagia menanggung perih.Menatap cinta yang bukan hak milik.Tuhan titipkan keindahan,seindah apapun itu,Tuhan juga yang mencabutnya.Hanya pernah indah,tak mungkin bisa jadi megah.
Hanya rindu yang bisa ditinggal.Tak akan dibawa berkemas.Karena hanya satu-satunya dalam rindu itu bisa saling mendoakan.Seberat apapun menanggung rindu,tak seberat seperti berkemas.Apabila kelak rindu memanggil,berdoalah.Jangan lagi menoleh ke belakang.Apalah itu sedih.Sedih hanya pigura berukir yang bisa dilepas kapanpun saja.Mari saling menyanggupi untuk berkemas.Jangan lagi rindu pulang menuju hati yang lalu..
However,I love us..
Pretty Octovilova
Sunday, 10 November 2013
Tak habis (kah)
Dialog dengan waktu begitu melelahkan.Padahal jalannya waktu tidak ada kata tawar menawar.Aku melilitkan diri pada jam pasir agar jelas melihat sisa-sisa waktu bergiliran bergulir.Nasihat demi nasihat menelanjangiku dengan kenyataan.Aku masih juga gigih mematung pada apa yang aku sebut takdir.
Andai saja aku bisa mengintip Lahul Mahfudz seperti apa kita akan berakhir.Dan rahasia bercadar apa dibalik semua ini sehingga aku rela hanya bisa mondar-mandir menjadi pemberi hikmah dan pelajaran dalam hidupmu.
Sampai rela berbalut perih pada sisa umurku,dimana kau pun terkadang ikut melukai dan juga terluka.
Aku sudah putus asa pada kita.Aku menyerah pada kita.Sebentar lagi kita akan saling membunuh aku dan kamu.Kita akan perlahan sekarat tanpa bisa berkata apa-apa,bahkan untuk mengubur jasad cinta kita masing-masingpun sudah tak kuasa.Masihkah kita sempat menyiapkan nisan bertuliskan cinta yang pernah bernyawa?
Sudahlah.Aku bahkan tak ingin tahu malaikat mana yang akan menjemputmu untuk bahagia.Yang aku hanya inginkan saat ini hanyalah berlari menuju senja yang perlahan dikoyak oleh malam.Tertidur lelap disana,dan berharap esok pagi aku (juga)bermetamorfosis menjadi malaikat tanpa sayap,yang rela merelakan cintanya mati dibunuh.Agar bahagia tidak mutlak hanya milik diri.Agar cinta yang sesungguhnya bertahta tanpa beban.Apa nanti aku malaikat atau apapun,ingatlah.Ragaku masih setengahnya hidup di hatimu.Entah.Sampai kapan...Karena kau pun tak juga rela melepaskan setengah ragaku disana...
Andai saja aku bisa mengintip Lahul Mahfudz seperti apa kita akan berakhir.Dan rahasia bercadar apa dibalik semua ini sehingga aku rela hanya bisa mondar-mandir menjadi pemberi hikmah dan pelajaran dalam hidupmu.
Sampai rela berbalut perih pada sisa umurku,dimana kau pun terkadang ikut melukai dan juga terluka.
Aku sudah putus asa pada kita.Aku menyerah pada kita.Sebentar lagi kita akan saling membunuh aku dan kamu.Kita akan perlahan sekarat tanpa bisa berkata apa-apa,bahkan untuk mengubur jasad cinta kita masing-masingpun sudah tak kuasa.Masihkah kita sempat menyiapkan nisan bertuliskan cinta yang pernah bernyawa?
Sudahlah.Aku bahkan tak ingin tahu malaikat mana yang akan menjemputmu untuk bahagia.Yang aku hanya inginkan saat ini hanyalah berlari menuju senja yang perlahan dikoyak oleh malam.Tertidur lelap disana,dan berharap esok pagi aku (juga)bermetamorfosis menjadi malaikat tanpa sayap,yang rela merelakan cintanya mati dibunuh.Agar bahagia tidak mutlak hanya milik diri.Agar cinta yang sesungguhnya bertahta tanpa beban.Apa nanti aku malaikat atau apapun,ingatlah.Ragaku masih setengahnya hidup di hatimu.Entah.Sampai kapan...Karena kau pun tak juga rela melepaskan setengah ragaku disana...
Saturday, 9 November 2013
Paham,meski tak harus sepaham
Betapa rumitnya menjembatani sebuah perbedaan.Yang seharusnya perbedaan itu bukan diperdebatkan,tapi toh ketika di awal akan jadi pertentangan.Mengakui sebuah polemik itu cukup menguras egoisme dan idealisme.Ketelanjangan dialog mengenai perbedaan selalu dipandang dengan seribu perspektif.Baik secara anatomi atau secara dikotomi,tak perduli itu sains atau fiksi,setiap manusia akan terus berdiri pada apa yang ia percaya dan yakini.Mulai dari Polemik agama,sejarah nenek moyang,kemanusiaan,politik bahkan urusan perut pun bisa punya perbedaan perspektif.
Sungguh perbedaan itu sulit bila tidak dibuat lentur dan luwes.Perbedaan itu ibarat meregangkan karet diantara dua jari.Jika salah satu jari melepaskan karet itu,maka jari yang lain akan kesakitan.Agar tak kesakitan,maka sebaiknya jangan diregangkan.Begitu juga dengan perbedaan,semakin diregangkan,akan berpotensi menyakiti salah satu pihak.
Arif kah jika saya lebih memilih untuk paham pada perbedaan?Kepala saya selalu mau pecah jika memperdebatkan perbedaan.Selalu ada jalan tengah.Secara permisif otak dan hati saya akan menerima apa yang dijadikan alasan perbedaan itu.Baiklah.Saya paham kenapa seseorang mempertahankan apa yang ia percaya tidak sama dengan apa yang saya percaya.Walau sedari tadi berdebat hanya sekedar membolak-balikan paradoks,toh pada akhirnya kelembutan hati dan keluwesan memandang yang dijadikan jembatan untuk menyebrangi perbedaan tersebut.Di sudut pemikiran,saya lebih memilih untuk paham,meski tak harus sepaham.Perbedaan akan terus ada hingga akhir jaman.Lantas,untuk apa dipermasalahkan kalau sampai mati nanti tidak juga menemukan jawabannya.Hanya paham.Lalu diam.
Manusia yang belajar arif tapi belum arif juga,
Pretty Octovilova
Sungguh perbedaan itu sulit bila tidak dibuat lentur dan luwes.Perbedaan itu ibarat meregangkan karet diantara dua jari.Jika salah satu jari melepaskan karet itu,maka jari yang lain akan kesakitan.Agar tak kesakitan,maka sebaiknya jangan diregangkan.Begitu juga dengan perbedaan,semakin diregangkan,akan berpotensi menyakiti salah satu pihak.
Arif kah jika saya lebih memilih untuk paham pada perbedaan?Kepala saya selalu mau pecah jika memperdebatkan perbedaan.Selalu ada jalan tengah.Secara permisif otak dan hati saya akan menerima apa yang dijadikan alasan perbedaan itu.Baiklah.Saya paham kenapa seseorang mempertahankan apa yang ia percaya tidak sama dengan apa yang saya percaya.Walau sedari tadi berdebat hanya sekedar membolak-balikan paradoks,toh pada akhirnya kelembutan hati dan keluwesan memandang yang dijadikan jembatan untuk menyebrangi perbedaan tersebut.Di sudut pemikiran,saya lebih memilih untuk paham,meski tak harus sepaham.Perbedaan akan terus ada hingga akhir jaman.Lantas,untuk apa dipermasalahkan kalau sampai mati nanti tidak juga menemukan jawabannya.Hanya paham.Lalu diam.
Manusia yang belajar arif tapi belum arif juga,
Pretty Octovilova
Subscribe to:
Comments (Atom)