Betapa rumitnya menjembatani sebuah perbedaan.Yang seharusnya perbedaan itu bukan diperdebatkan,tapi toh ketika di awal akan jadi pertentangan.Mengakui sebuah polemik itu cukup menguras egoisme dan idealisme.Ketelanjangan dialog mengenai perbedaan selalu dipandang dengan seribu perspektif.Baik secara anatomi atau secara dikotomi,tak perduli itu sains atau fiksi,setiap manusia akan terus berdiri pada apa yang ia percaya dan yakini.Mulai dari Polemik agama,sejarah nenek moyang,kemanusiaan,politik bahkan urusan perut pun bisa punya perbedaan perspektif.
Sungguh perbedaan itu sulit bila tidak dibuat lentur dan luwes.Perbedaan itu ibarat meregangkan karet diantara dua jari.Jika salah satu jari melepaskan karet itu,maka jari yang lain akan kesakitan.Agar tak kesakitan,maka sebaiknya jangan diregangkan.Begitu juga dengan perbedaan,semakin diregangkan,akan berpotensi menyakiti salah satu pihak.
Arif kah jika saya lebih memilih untuk paham pada perbedaan?Kepala saya selalu mau pecah jika memperdebatkan perbedaan.Selalu ada jalan tengah.Secara permisif otak dan hati saya akan menerima apa yang dijadikan alasan perbedaan itu.Baiklah.Saya paham kenapa seseorang mempertahankan apa yang ia percaya tidak sama dengan apa yang saya percaya.Walau sedari tadi berdebat hanya sekedar membolak-balikan paradoks,toh pada akhirnya kelembutan hati dan keluwesan memandang yang dijadikan jembatan untuk menyebrangi perbedaan tersebut.Di sudut pemikiran,saya lebih memilih untuk paham,meski tak harus sepaham.Perbedaan akan terus ada hingga akhir jaman.Lantas,untuk apa dipermasalahkan kalau sampai mati nanti tidak juga menemukan jawabannya.Hanya paham.Lalu diam.
Manusia yang belajar arif tapi belum arif juga,
Pretty Octovilova
No comments:
Post a Comment