Dialog dengan waktu begitu melelahkan.Padahal jalannya waktu tidak ada kata tawar menawar.Aku melilitkan diri pada jam pasir agar jelas melihat sisa-sisa waktu bergiliran bergulir.Nasihat demi nasihat menelanjangiku dengan kenyataan.Aku masih juga gigih mematung pada apa yang aku sebut takdir.
Andai saja aku bisa mengintip Lahul Mahfudz seperti apa kita akan berakhir.Dan rahasia bercadar apa dibalik semua ini sehingga aku rela hanya bisa mondar-mandir menjadi pemberi hikmah dan pelajaran dalam hidupmu.
Sampai rela berbalut perih pada sisa umurku,dimana kau pun terkadang ikut melukai dan juga terluka.
Aku sudah putus asa pada kita.Aku menyerah pada kita.Sebentar lagi kita akan saling membunuh aku dan kamu.Kita akan perlahan sekarat tanpa bisa berkata apa-apa,bahkan untuk mengubur jasad cinta kita masing-masingpun sudah tak kuasa.Masihkah kita sempat menyiapkan nisan bertuliskan cinta yang pernah bernyawa?
Sudahlah.Aku bahkan tak ingin tahu malaikat mana yang akan menjemputmu untuk bahagia.Yang aku hanya inginkan saat ini hanyalah berlari menuju senja yang perlahan dikoyak oleh malam.Tertidur lelap disana,dan berharap esok pagi aku (juga)bermetamorfosis menjadi malaikat tanpa sayap,yang rela merelakan cintanya mati dibunuh.Agar bahagia tidak mutlak hanya milik diri.Agar cinta yang sesungguhnya bertahta tanpa beban.Apa nanti aku malaikat atau apapun,ingatlah.Ragaku masih setengahnya hidup di hatimu.Entah.Sampai kapan...Karena kau pun tak juga rela melepaskan setengah ragaku disana...
No comments:
Post a Comment