Sebenarnya kita bisa bicara.Tak perlu bisu begini.Apapun yang akan kita lontarkan dari mulut kita,biasanya menjadi tawa,sedih sekaligus cerita.Sekarang rasanya menyebut satu kata pun kita terlalu berhati-hati,seperti takut mengeluarkan jarum yang nanti menyakitkan.Kita ini apa?Air atau api?Dulu kita seperti air yang selalu saling menghanyutkan.Mengalir,memancur,terserah kita bahagia dimana saja.
Tapi sekarang,kita seperti Api.Saling membakar dalam diam.Walau tak ada suluh,namun rasanya tetap panas dan saling menghabiskan hingga jadi debu.
Sepertinya kita saling menepati janji untuk saling hilang.Hilang dalam air,entah dalam api.Kita sudah harus tunduk pada jam pasir yang hampir habis.Aku takluk pada takdir,kau pun patuh pada garis nasib.Sakit tinggal sakit.Tapi mungkin aku lah yang paling perih.Berada dalam titik nadir.Menatap punggungmu pergi membelakangiku.Karena cintaku tidak pada tempatnya.Dan cintamu lebih memilih kehormatan.
Kita hilang pelan-pelan.Separuh darimu sudah pergi bersama doaku.Dan separuhnya lagi pergi mencari cinta baru yang lebih terpandang.Aku tak lebih hanya debu yang cuma menempel pada jas mewahmu agar terlihat sama.Tapi debu hanyalah debu.Hanya akan membuatmu terlihat kotor.Mudah saja,dengan satu kebasan,aku,sang debu,lepas dari sana dan terbang terbuang.
Aku bilang kita hilang.Semoga kau pun senang.Aku akan bersatu dengan tanah,dan kau akan terbang ke tingkatan atas bersama awan.Kita pernah indah di masa lalu.Suatu saat kau merindukanku,tunduklah ke tanah.Aku ada disana.Dan suatu saat aku merindukanmu,aku akan mendongak ke langit.Karena aku hanyalah tanah,sedangkan kau langit biru.
No comments:
Post a Comment