Mengapa kita berperan serumit ini.Serumit ceritanya.Dari prolog hingga ke monolog, kita tidak mengalami perubahan.Kamu statis dengan dialog mu yang terus menerus mengatakan ketidak mungkinan.mustahil.Sedangkan aku bergerak kebingungan mengikuti naskahmu yang terkadang tidak sesuai dengan seluruh monolog mu.Aku ini memerankan apa sebenarnya denganmu?Aku ini akan berakhir seperti apa denganmu?Salahku.Tak kuasa menolak semua pesonamu.Aku terus bergulir dengan takjubnya kepada harapan yang kau gambarkan selalu putih abu-abu.Aku tak bisa membacanya,tapi aku merasakannya.Aku terus mengikutimu,terus melangkah dengan naluriku,dan semua perintah-perintah mu yang mengandung mimpi indah yang menurutku sebuah pertanda bahwa kita ini memang sejiwa.Aku luluh pada setiap teguranmu.Aku melayang pada setiap bisikanmu.Aku mencintai segala kesalahanmu.Aku mengagumi seluruh kekuranganmu.Aku tak pernah menyadari,sebenarnya aku lah penonton setiamu.Bukan pemain seperti naskah yang sudah diberikan.Pemain yang mengagumi sesama pemain.Terlena hingga akhirnya menjadi penonton yang terkagum-kagum pada aktingmu.Aku gagal berperan denganmu.Padahal yang kuinginkan kita berperan sebagai sepasang kekasih.Tapi ternyata aku belum mampu menurut sang sutradara.Semoga sutradara tak menggantikannya dengan pemeran lain.Aku mohon..aku bisa menjadi pemain itu.Beri aku kesempatan sekali lagi.Aku tahu aku gagal berperan sebaik mungkin denganmu.Aku tak secantik yang lain, aku tak sepandai kebanyakan pemain lain,dan aku tidak sebangsa dengan kamu sang pemeran utama,tapi aku selalu menjadi apa adanya diriku,Maafkan,aku tak mampu berpura-pura di depanmu.Aku tak mampu berperan untuk tidak boleh mencintaimu sesuai naskah.Bahwa aku mencintaimu.Meskipun sutradara akan berteriak memarahiku tepat di kupingku,aku tak perduli.Karena aku tak bisa berpura-pura (tidak) mencintaimu..
I love us,
Pretty
No comments:
Post a Comment