Apa yang membuat siang ini saya begitu ingin marah sama ayam.Betapa tidak,dengan tidak senonohnya mereka kawin di depan saya,tepat di depan teras rumah dimana saya sedang duduk.Lho?Kok bisa-bisanya marah?Toh mereka hanya hewan yang tidak punya akal dan perasaan.Mau melakukan apa saja ya masa bodoh lah.Namanya juga hewan ini.
Yaa ini dia yang bikin saya lantas marah sama ayam.Saya merasa nasib sedang melakukan dikotomi atas diri saya.Ayam vs Manusia.Bagaimana tidak.Ayam yang diciptakan jauh kurang sempurna daripada manusia macam saya saja sudah kawin.Lha saya yang diberi akal pikiran dan perasaan saja belum melakukan regenerasi macam itu.Apalagi dengan mirisnya hari ini saya meihat teman yang sedang berbahagia memposting undangan pernikahannya.Buru-buru saya tutup medsos itu.Tak lama saya beralih ke smartphone saya.Eh..salah satu teman yang mau menikah sabtu ini menulis status dengan bahagianya sedang luluran untuk persiapan menikah nanti.Cepat-cepat saya tutup (juga) smartphone saya diikuti helaan nafas panjang.Tak lama berselang,ketika semua akses untuk berinteraksi dengan teman saya hindari,eh...ayam tetangga di depan teras malah kawin.Apa lantas itu tidak membangkitkan emosi saya yang sedari tadi sudah saya tahan?Sabar saya hilang setelah melihat ayam tadi.Segera kuraih apapun yang dekat dengan saya pada saat itu.Mainan,bungkus biskuit,saya lemparkan kepada kedua ayam tersebut.Tapi malah nggak pergi.Kesal.Berat kesalnya.Kuraih sapu ijuk.Ini langkah prefentif terakhir saya,mengibas-ngibaskan sapu ijuk itu pada ayam.Marah-marah begini saya juga masih punya hati lho.Bagus ayamnya tidak saya lempar pake sapu ijuk itu.Cuma dikibas.Pergilah ayam tadi.Habis ayamnya pergi,galau.Tahu sih ayam itu tidak bermaksud meledek saya,tapi rasanya saya terledek.Apa sih saya ini.ayam saja bisa kawin,saya saja susah.Astaghfirullah...lagi-lagi merutuk.(Dosa itu padahal).
Kembali saya merenung.Apa saya jadi ayam saja biar bisa melakukan regenerasi?Bodoh.Ayam kan tidak berakal.Mau melakukan dimana saja dia tidak menanggung dosa.Kalau saya jelas akan berdosa.Ayam boleh melakukan dimana saja.Lantas saya kalau melakukan dimana saja?Apa saya tidak ditahan polisi.Belum lagi didakwa dengan pasal berlapis-lapis.Belum lagi karakter yang terbunuh.Lantas dilanjut dengan pertanggung jawaban di akhirat.Lalu kenapa saya harus marah sama ayam?
Mungkin ayam hanya menguji saya.Seberapa sabar saya menanti jodoh saya.Melihat ayam tadi saja sayaasudah merutuk.Berarti saya belum sabar.Bagamana saya mau diberikan pasangan yang baik,kalau saya saja masih gagal memperbaiki diri,apalagi menahan sabar.Menghadapi ayam saja saya tidak sabar.Bagaimana nanti kalau menghadapi suami?
Boleh dikatakan ini adalah refleksi kekecewaan saya terhadap diri saya,bukan pada nasib.Saya yang harus banyak belajar pada ayam tadi,bahwa melakukan regenerasi tidak boleh sembarangan,tidak seenak-enaknya saja.Kawin atau menikah itu tidak semudah melakukan seperti ayam tadi.Andai bisa semudah itu,maka hancurlah diri saya.Di mata manusia dan di mata Tuhan karena sembarangan mengindahkan nafsu saya.Ayam itu melakukan karena nafsu,karena naluri hewani nya.Sementara saya melakukannya karena ibadah.Oleh karena itu saya harus benar-benar melibatkan Tuhan saya pada hal semacam ini.Hati boleh meminta dengan siapa saya mau berjodoh,tetapi Tuhan lah yang menentukan dengan siapa saya berjodoh.Karena saya bukan ayam yang sembarangan menemukan pasangan lalu kawin.Lantas,kenap saya (harus) marah sama ayam ya?
Not an angel,but also not an stupid evil,
Pretty Octovilova
bwakakakakkaka..kasian bener nasib tu ayam..dosa apa diaaa...
ReplyDeletewakakakkk!aslinya itu terjadi siang kemarin di teras dpn.Yg bikin kesel,diusir tp ga pergi2.mana lg panas udara.bner eta mah asa diledekan ku hayam.parahh sensi na nyak?hahaha
Delete